Berbicara tentang buku memang tidak ada habisnya, tulisan akan selalu kekal walaupun tangan yang menulis telah terkubur di dalam tanah. Tulisan menjadi wasilah untuk menunjukkan eksistensi seseorang. Tentu jika tanpa tulisan kita takkan pernah tahu bagaimana sejarah, takkan mengenal masa lalu, takkan mampu belajar dan berbuat lebih baik.
Seperti yang sudah saya sampaikan pada tulisan sebelumnya, kita akan mencoba membuka lembaran sejarah tentang perhatian kaum muslimin terhadap buku, hal-hal aneh dan "gila" yang mereka lakukan untuk memenuhi akal mereka dengan ilmu melalui wasilah buku. Berikut beberapa hal penting yang menjadi cerita nan patut kita teladani dari para pendahulu kita dari kalangan kaum muslimin pada masa jayanya, semoga kisah-kisah ini akan membuat kita semakin mencintai ilmu dan buku.
Jual beli buku
Ulama pada masa itu pada khususnya atau masyarakat pada umumnya terbiasa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli buku, tak ada sedikitpun keraguan pada diri mereka untuk mengeluarkan uang untuk membeli buku. Bahkan kecintaan mereka terhadap buku membuat mereka tidak peduli dengan mahalnya harga buku. Semua itu mereka lakukan sebagai bentuk pengangungan terhadap ilmu. Al-Jaahizh berkata : "Sesungguhnya kedermawanan diri dalam mengeluarkan uang untuk buku adalah bentuk pengagungan buku" . Dan diriwiyatkan dari salah satu ulama Asbahaan yang kaya raya, bahwa ia membeli buku bukunya seharga seratus ribu dirham.
Pada masa itu tidaklah aneh jika para ibu-ibu dan isrti para ulama menyalahkan mereka karena terlalu sering membeli buku, sehingga anggaran belanja harian untuk membuat dapur ngepul terkurangi atau bahkan tidak ada sama sekali.
Kalau berbicara tentang toko-toko buku, maka tak perlu ditanya lagi berapa jumlahnya. Di Baghdad, tepatnya di pintu masuk dari arah Bashroh terdapat 100 toko buku lebih. Toko-toko tersebut tak pernah sepi dari para pembeli yang berlalu-lalang dari semua tingkatan manusia, baik tua maupun muda, dari para qodhi sampai muadzin masjid, mereka berada di toko-toko tersebut.
Itu lah beberapa potret menakjub dari ikatan kuat antara kaum muslimin dan buku. Namun, beberapa hal harus tetap kita sadari dan pahami bahwa tidak semua orang yang membeli buku itu adalah orang yang perhatian dan cinta terhadap buku, terkadang mereka membeli hanya untuk jadi pajangan tanpa membacanya sama sekali.
