Namun semua usaha itu
berujung pada kegagalan. Ya.. karena mereka bukanlah bangsa yang memiliki
kelebihan kecuali hanya dalam kekuatan militer, namun kosong dalam hal ilmu.
Berbeda dengan kaum
muslimin pada masa jayanya, kita adalah bangsa yang sangat menghormati dan
menghargai ilmu namun juga tidak mengabaikan kekuatan militernya. Kita memiliki
para pejuang dalam ilmu seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i,
Imam Ahmad yang berkecimpung dalam ilmu dien, ada juga Al-Khawarizmi, Ibn Rusyd dan ulama lainnya yang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan umum. Disamping itu kita juga memiliki jendral
perang yang kuat dan gagah seperti Khalid ibn Waliid, Amr ibn Al-‘Ash,
Sholahuddin Al-Ayyubi dan lainnya.
Pada kesempatan kali
ini kita tidak akan berbicara tentang kemampuan militer kaum muslimin, kita
akan berbicara tentang kemampuan kaum muslim dalam hal ilmu terkhusus tentang
perhatian mereka terhadap buku.
Ya.. Buku adalah sebaik-baik teman duduk sesuai kata pepatah, Ia bisa jadi penunjuk saat tersesat, jadi penerang dalam kegelapan. Bangsa islam sangat terkenal tentang perhatiannya terhadap buku. Seorang orientalis Jerman yang bernama Sigrid berkata : “Masyarakat di wilayah arab sangat antusias dalam mengumpulkan buku, yang mana hal ini tidak dikenal dalam sejarah ada bandingannya”. Dior Antol juga berkata : “Tidak ada bangsa yang mampu menyamai kaum muslimin pada abad 8 , 9 , 10 , 11 dalam hal perhatian mereka terhadap buku kecuali bangsa China pada masa Ming Hwang”
Tapi itu semua sudah
berlalu, seakan ia hanyalah cerita lama yang telah jadi legenda. Kaum muslimin pada masa kini sangat
berbeda dengan kaum muslimin pada masa lampau. Kita tak lagi mengenal
keberhasilan, baik dalam bidang ilmu maupun militer. Hal itu pun berimbas pada
ketidak mampuan kita untuk memimpin dunia.
Dunia telah
mengendalikan akal manusia, harta telah menjadi timbangan keberhasilan dan
kesuksesan bukan lagi ilmu, bahkan lebih buruk dari itu semua, ilmu sekarang
hanyalah jadi jejang untuk mencapai materi.
Seorang bayi yang masih
menyusu, sejak kecil ia sudah didoktrin bahwa kaya dan miskinnya tergantung
dengan pendidikannya. Seorang siswa/mahasiswa menerima ijazah hanyalah sebagai
bukti bahwa ia berhak untuk mendapatkan pekerjaan. Seorang pegawai yang menulis makalah atau
sejenisnya, tidak akan menulis kecuali hanya sebagai perantara untuk memperoleh
jabatan.
Mungkin sejenak kita
perlu bernostalgia tentang pendahulu kita, bukan untuk sekadar mendengar cerita
tentang mereka dan berbangga-bangga atas keberhasilan mereka, karena ini
hanyalan perbuatan orang-orang kerdil. Kita mengingat mereka sebagai
seorang pejuang yang atas izin Allah kemudian dengan kegigihan dan ketekunan,
mereka mampu mengubah alur sejarah.
Jika kita merenungkan
sejarah mereka, satu sisi kita akan tersenyum namun di sisi lain kita akan
bersedih. Kita tersenyum karena kita tahu bahwa kemajuan bangsa barat semuanya
berawal dari tangan-tangan dingin kaum muslimin, namun kita bersedih saat
melihat keadaan kaum muslimin saat ini, bukan kita yang melanjutkan
proyek-proyek besar yang dimulai oleh nenek moyang kita namun dilanjutkanlah
oleh orang-orang kafir.
Kemajuan bangsa barat sejatinya berawal dari kesadaran mereka tentang betapa pentingnya ilmu dan
buku, hal ini mereka dapat dari kaum muslimin yang pada masa itu sangat
memperhatikan ilmu dan buku. Mungkin kita berpikir bahwa bangsa barat pada
masa-masa sekarang sangat perhatian terhadap buku namun jika kita telisik
sejarah, sungguh para pendahulu kita lebih dan lebih “gila” jika berkenaan
dengan buku.
Bersambung ......
